Pentingnya Pendidikan Karakter

Pentingnya Pendidikan Karakter

Avicenna Education – Ada tiga macam kecerdasan diantaranya ; kecerdasan emosional, kecerdasan intelektual, dan kecerdasan spiritual ditambah lagi kecerdasan sosial, yang belakangan ini dipandang menjadi penting bagi setiap individu, sebab ketika dia terjun dalam kehidupan bermasyarakat, dalam berintegrasi dalam pada semua bidang, yang dibutuhkan tidak hanya intelektualitas tapi juga kendali diri.

Prof. Dr. K.H M. Tholhah Hasan , seorang pakar pendidikan dan Direktur Yayasan Pendidikan Agama Islam Sabilillah Malang dan Universitas Islam Malang, mengatakan bahwa individu yang memiliki kecerdasan secara spiritual dan emosional jauh lebih bisa bertahan dari pada individu yang hanya memiliki kecerdasan secara intelektual. Kalau individu itu hanya memiliki kecerdasan pada otaknya saja, maka pelanggaran dan penyimpangan perilaku tindakan amoral sulit terhindarkan dalam pribadi individu tersebut. Dalam hal ini, kecerdasan emosional dan spiritual yang dimiliki individu menjadi kendali terhadap tindakan amoral.

Bekal kecerdasan spiritual, emosional dan sosial, menurut Tholhah Hasan juga berfungsi sebagai benteng diri bagi seorang individu terutama dalam menghadapi era globalisasi. Misalnya ketika seorang individu mulai mengenal tentang hal baru yang memiliki kecenderungan membawa dampak negatif maka dia akan mampu menyeleksi mana informasi yang baik untuk dirinya dan mana yang kurang baik untuk dirinya.

Pendidikan dan pembinaan karakter pada individu harus dilakukan sejak usia dini oleh orang tuanya, yang pengaruhnya dapat dilihat dan dirasakan setelah individu itu dewasa.

Ada sebuah penelitian menarik yang dilakukan oleh Universitas Stanford di Amerika Serikat, yang dipaparkan oleh Daniel Goleman, penulis buku terkenal pada akhir abad 20, yakni “Emotional Intelligence”. Goleman bercerita tentang anak-anak usia dini yamh dijadikan obyek penelitian, yang disebutnya sebagai ”Marshmallow Kids”.  Kepada sekelompok anak usia empat tahun di taman kanak-kanak Stanford disuruh masuk kedalam sebuah ruangan, seorang demi seorang, dan marshmallow (sejenis manisan atau makanan) diletakkan di atas meja di depan mereka, kemudian seorang guru atau penguji berkata kepada mereka “Kalian boleh memakan marshmallow ini jika kalian mau, tetapi jika kalian mau bersabar atau menahan diri, baru memakanya setelah saya kembali lagi kesini, maka kalian berhak mendapatkan tambahan marshmallow lagi”. Setelah itu guru penguji keluar ruangan dan beberapa saat kemudian guru penguji kembali lagi ke dalam ruangan. Ternyata diantara anak-anak tersebut ada yang sabar menahan diri dan sebagian yang lain tidak terlalu terhirau dengan apa yang disampaikan guru penguji bahwa akan mendapatkan reward bagi siapa yang mengambil marshmallow setelah guru penguji kembali keluar dari ruangan.

Ini merupakan gambaran faktual sebuah mikrokosmos pergulatan abadi antara impuls dan kendali, antara pelepasan nafsu dan pengekangan diri, antara pemuasan dan penangguhan. Model sikap anak-anak tersebut tidak hanya membedakan antara dua macam karakter, tetapi menunjukkan jalan hidup yang dipilih mereka di masa depannya. Dua macam tipe karakter anak-anak tersebut menjadi sasaran penelitian menarik di Stanford University secara berlanjut.

Sekitar empat belas tahun kemudian, sewaktu mereka lulus sekolah lanjutan atas, anak-anak yang dulunya tidak sabaran dibanding anak yang mampu menahan diri terlihat tipe pertama itu tidak tahan menghadapi stress, mudah tersinggung, lebih sering berkelahi, serta kurang tangguh dalam mengejar cita-cita mereka. Dan ada hal lainyang mengejutkan para peneliti, adalah munculnya efek yang benar-benar tidak terduga sebelumnya, bahwa anak-anak pada tipe kedua mereka memperoleh skor atau nilai lebih tinggi dalam ujian masuk Perguruan Tinggi.

Ketika telah dewasa dan memasuki dunia kerja, perbedaan diantara dua tipe menjadi semakin mencolok. Mereka yang masuk tipe kedua menjadi orang-orang cerdas yang bersemangat tinggi, lebih mampu berkonsentrasi, lebih mampu mengembangkan hubungan yang tulus dan akrab dengan orang lain, lebih bertanggung jawab, dan lebih handal saat menghadapi tantangan dan frustasi. Begitupun sebaliknya anak yang masuk kategori pertama semasa kecil mereka lebih sering kesepian, kurang tanggung menghadapi tantangan, lebih mudah kehilangan konsentrasi, dan tidak sabar menunda kepuasan dalam mengejar kemauan, juga lebih mudah meledak marah-marah, tidak luwes dan hampir tidak mempunyai toleransi.

kisah di atas memberikan pelajaran berharga dan mendalam bagi para orang tua dan pendidik, dalam upaya mendidik, membina dan mengajar serta melatih sikap anak-anak dan peserta didiknya, terutama pada saat anak-anak itu masih usia dini dan mereka berada ditengah-tengah kehidupan keluarga.

Malang, 30 Agustus 2017

 

Bimbel dan Les Privat Avicenna Education Center
“Biaya Hemat, Prestasi Hebat”

Avicenna Education Malang
(0341) 6503899 – 081233309365

Jl. Simpang KH. Yusuf, Puri Kartika Asri D7
Kota Malang – Jawa Timur

FB: Avicenna Malang

Website: www.avicenna-education.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *